Rp. 46,000.00 Terbit: 25/05/2004 ISBN: 979-9290-16-3 20 X 24 cm 188 Hal. 250 gr.
|
| 100 PERISTIWA PENTING DALAM SEJARAH KRISTEN Curtis, A. Kenneth., Dkk
    

Kekristenan yang Menyejarah
Peresensi: Pdt. Weinata Sairin (Sekretaris MPK PGI)
Majalah Narwastu Edisi April 2003.
Bung Karno pernah berpidato dengan judul “Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah” (Jas Merah). Melalui pidato itu, ia ingin mengingatkan bangsa Indonesia agar belajar dari sejarah. Manusia memang merupakan sosok yang amat menghargai sejarah, karena sejarah memberi pelajaran yang amat berharga bagi manusia, pendalaman dan penghayatan tentang sejarah. Manusia tidak akan jatuh serta mengulangi kesalahan yang pernah dibuatnya pada masa lampau. Sejarah ibarat obor dan lilin yang memandu manusia untuk merengkuh kehidupan menelusuri lorong-lorong dunia yang gelap. Manusia dengan kecanggihannya dapat mempergunakan pengetahuan kesejarahan dengan amat baik, sehingga ia bisa tampil sebagai pembuat sejarah yang baru, bahkan mampu mengubah jalannya sejarah. Kehidupan dan peradaban manusia adalah sebuah rentang sejarah yang amat panjang. Di dalamnya ada perkembangan kebudayaan, agama-agama dan berbagai peristiwa penting lainnya. Tak boleh dilupakan, dalam menulis sejarah tak bisa diabaikan adanya aspek interpretasi dan subyektivitas dari si penulis sejarah itu sendiri. Kekristenan telah menjadi bagian dari sejarah. Kekristenan telah ikut mewarnai sejarah dunia. Fakta dan realitas itu tak bisa disangkal.
Buku berjudul “100 Peristiwa Penting Dalam Sejarah Kristen” ini menghasilkan pengalaman-pengalaman sejarah kekristenan yang amat penting dalam kurun waktu lebih dari 1.000 tahun. Melalui buku ini dapat dilacak bagaimana pertumbuhan kekristenan di masa-masa awal, bagaimana interaksi kekristenan dengan dunia, dan bagaimana dunia menyikapi kekristenan. Penulis telah berupaya menyajikan perjalanan sejarah kekristenan sebagai upaya untuk menolong warga gereja, bahkan siapa saja untuk mengetahui lebih banyak asal-usul kekristenan, tanpa mesti membaca buku sejarah gereja yang tebal berjilid-jilid.
Buku ini diawali dengan paparan penting tentang kebakaran yang terjadi di Kota Roma 19 Juli tahun 64. Para pejabat Romawi saat itu memang tidak bersikap positif terhadap kekristenan, bahkan memusuhi kekristenan sebagai agama baru yang ajarannya berbeda dan keyahudian. Menurut legenda, Kaisar Nero sedang bermain biola ketika Roma terbakar. Api mengganas selama tujuh hari tak bisa dipadamkan, melalap 10 dari 14 blok rumah dengan banyak menelan korban jiwa. Banyak yang menduga Nero-lah yang bertanggungjawab terhadap kebakaran itu, tapi ia justru menuduh orang Kristen menjadi penyebabnya. Nero bersumpah untuk memburu orang kristen. Hal itu kemudian terjadi, mereka disalib, dibakar, dimasukkan ke kandang menjadi santapan binatang. Penganiayaan itu tidak mematikan kekristenan. Tertullianus, penulis Kristen abad II berkata, “Darah para martir adalah benih gereja”. Perkataan itu terbukti dalam sejarah perjalanan gereja, ketika datang penganiayaan, gereja tetap bertumbuh dan bertambah. Gereja merambat, walau dibabat.
Buku ini juga mengisahkan tentang Uskup Smyrna, yaitu Polikarpus yang menjadi martir tahun 156. Polikarpus bersama orang-orang Kristen menolak menyembah kaisar dan dewa-dewa Romawi, mereka hanya beriman pada Kristus. Orang-orang Smyrna memburu orang-orang Kristen dengan pekik “Enyahkan orang-orang kafir” Polikarpus diminta untuk percaya pada dewa-dewa Roma, dan menghujat Kristus, namun ia tetap menolak. Gubernur Romawi mengancam Polikarpus dengan melemparkan dia pada binatang buas atau bahkan dibakar. Polikarpus tetap tegar, Ia setia kepada Yesus Kristus. Ia berkata “Apimu akan membakar hanya satu jam lamanya, kemudian akan padam namun api penghakiman yang akan datang adalah abadi”. Akhimya. Polikarpus dibakar hidup-hidup, namun menurut saksi mata badan-nya tidak terbakar api. Ia seperti emas atau perak dimurnikan di atas tungku perapian. Ada aroma harum seperti kemenyan atau rempah-rempah dari perapian itu. Ketika algojo Romawi menikamnya, darah yang mengalir memadamkan api itu.
Tahun 1517 Martin Luther menempelkan 95 dalil di depan pintu gereja Wittenberg sebagai protes terhadap berbagai tradisi gereja saat itu yang dianggap menyimpang dari Alkitab. Luther secara khusus mengkritik program indulgensi (surat pengampunan dosa) yang dijual oleh para pejabat gereja dan menggunakan uang itu untuk membangun gedung gereja di Roma. Pengampunan Ilahi kata Luther tak bisa diperjualbelikan.
Pandangan Luther mengawali gerakan reformasi yang melahirkan Protestanisme. Luther menggali kebenaran Alkitab dan berdasarkan itu ia melakukan pembauran di lingkungan gereja saat itu. Buku ini memberi bahan yang amat berharga gereja dan masyarakat luas untuk memaknai dan memahami bagian-bagian penting dan sejarah kekristenan. Dikemas dalam bahasa yang populer, mudah dicerna, menjadikan buku ini layak dibaca oleh pimpinan dan aktivis gereja serta masyarakat pada umumnya.
|
| Buku lainnya telah diresensi | |
Buku lainnya kategori yang sama | |
|